“Tak lama kemudian, sesuatu bergerak di kejauhan. Bukan ikan, bukan penyu. Siluetnya besar dan bulat, lalu bergerak perlahan. Seekor dugong.”
“Bau apa ini?”
Wawan, tuan rumah Karavea Dive Resort, meneriakkan pertanyaan itu. Suaranya yang keras memecah keheningan siang, sekaligus menyambut kedatangan Mars dan Sammy. Panas Donggala masih menempel di kulit, pun kami belum sempat benar-benar menyapa Pantai Tanjung Karang. Kami spontan saling pandang, lalu serempak menunduk, mengangkat sandal masing-masing, seperti sekelompok orang yang baru sadar sedang membawa aib di telapak kaki sendiri.
Dan, benar saja, bau itu berasal dari sandal Sammy. Sisa ‘ranjau’ cokelat—kemungkinan besar tai sapi—menempel di solnya, lengkap dengan aroma yang menyebar pelan tapi pasti. Ia sepertinya menginjak ranjau itu waktu turun dari mobil, lantas sibuk mengangkat tas selam. Di sekitar tempat parkir, beberapa sapi liar memang tengah berkeliaran santai, seolah pemilik sah tempat itu. Mereka rasanya sengaja meninggalkan jebakan kecil di sana-sini.
“Ah, baru datang sudah bawa hoki,” celetuk Wawan.
Tawa langsung pecah.
Di tempat ini, ejekan memang jarang benar-benar jadi ejekan. Semuanya melunak, mencair, seperti gula di kopi panas. Orang-orang bercanda seperti keluarga lama—tanpa jarak, tanpa jaim. Kesialan kecil justru dipelihara, diberi makna. Lagi pula, katanya, kalau awalnya apes, nanti laut akan mengganti dengan keberuntungan.
Logika yang mungkin tak masuk akal di kota. Namun, di Donggala, entah kenapa, terasa masuk akal.
***
Donggala terasa seperti kota yang lupa berlari. Ia berjalan pelan, seperti orang tua yang menikmati sore terlalu lama. Meski, ia tak selalu begitu.
Dulu, sebelum jalan darat membelah Pulau Sulawesi, laut adalah satu-satunya jalan raya. Perahu kayu Bugis, pedagang Makassar, kapal kolonial—semuanya singgah di Donggala. Garam, kopra, rotan, dan cerita-cerita panjang berpindah tangan di dermaga. Jika dibayangkan, suasananya mungkin riuh: teriakan kuli angkut, bau ikan asin, peluit kapal, dan bahasa-bahasa berlainan saling bersahutan.
Sekarang, yang tersisa hanya gema. Setiap kali melintas Donggala, saya merasa seperti memasuki halaman belakang sejarah. Gudang-gudang tua berdiri dengan cat terkelupas, dimakan angin asin bertahun-tahun. Pintu-pintunya besar, tapi tertutup rapat, seperti mulut yang memilih menyimpan rahasia. Deretan rumah art deco memiliki retak-retak halus di dindingnya, tanda letih menghadapi perubahan zaman, namun tetap menua dengan anggun.
Mata saya jadi selalu sibuk di Donggala. Saya terus menatap bangunan-bangungan tua di sepanjang jalan, membayangkan siapa yang pernah tinggal di sana, siapa yang pernah menunggu kapal yang tak pernah pulang. Akibatnya, berkali-kali ke sini, saya hampir selalu lupa arah menuju Karavea. Donggala tampaknya sengaja membuat saya tersesat, supaya mau tinggal lebih lama.
Sementara, orang-orangnya tetap tumbuh dengan laut. Anak-anak belajar berenang sebelum bersepeda. Angin musim dibaca seperti kalender. Mereka tahu kapan ombak bisa dipanggil sahabat, kapan laut harus dihormati. Karena itu, laut bukan sekadar pemandangan, melainkan anggota keluarga. Kadang ia memberi makan, kadang ia marah, tapi selalu dirindukan.
Mungkin, itu sebabnya Pantai Tanjung Karang, juga Karavea, terasa berbeda.

***
Karavea Dive Resort bukan resort mewah. Tak ada lobi dingin yang dipenuhi aroma pengharum ruangan. Ia lebih mirip rumah pantai yang menyimpan tabung-tabung skuba dan alat selam di sudutnya. Lokasinya pun tak mencolok, bahkan nyaris tersembunyi di antara bangunan lain. Kalau tak tahu, kita akan dengan mudah melewatinya dan tak pernah sadar ada dunia kecil di situ.
Untuk mencapai Karavea, kita harus menuruni jalan kecil yang berliku, layaknya lorong rahasia. Jalan mulai menurun perlahan, lantas melewati kebun kelapa, hingga suara ombak terdengar kian keras. Dan, kita akhirnya tiba di pantai begitu saja.
Kita akan disambut para penghuni Karavea—Wawan, Om Maming, Uci, Uto, Bang Basir, Om Gun, Pelung, Sadam, dan lainnya—orang-orang yang membuat tempat ini berdenyut. Tawa mereka gampang pecah, sehingga candaan datang tanpa perlu disusun. Banyolan mereka akan membuat siapa saja merasa sedang menumpang di rumah sepupu jauh. Jarang bertemu, tapi sekali duduk langsung akrab, langsung merasa pulang.

Ditambah, Pantai Tanjung Karang yang berada di dekatnya. Di banyak tempat, kita harus naik perahu jauh ke tengah untuk menemukan dinding karang yang curam. Di Tanjung Karang, kita cukup berenang beberapa meter dari pantai, lalu dasar laut mendadak runtuh dalam biru pekat. Drop-off—istilah untuk dinding bawah laut yang terjal—kata penyelam. Bagi saya, rasanya seperti melangkah ke tepi jurang mimpi. Sekali lihat, dunia darat terasa jauh sekali.
Di bawah sini, hidup pun bergerak dengan ritme lain. Karang keras bertumpuk seperti kota kecil, sedangkan karang halus berwarna terang bergoyang pelan. Gerombolan ikan berkilau lewat bagaikan hujan perak. Penyu melintas tanpa tergesa. Hiu sirip hitam atau sirip putih berenang cuek, menganggap kita cuma bayangan. Lebih dangkal lagi, lamun tumbuh layaknya padang rumput, tempat makan makhluk pemalu bernama dugong. Segalanya terasa sangat tua, terasa purba.
Di situlah pesona Karavea. Sederhana, mungkin nyaris berantakan, lantaran laut, kayu, pasir, alat selam, dan tawa orang-orang berkumpul jadi satu. Namun, benar-benar hidup.
Saya pertama kali datang ke sini pada 2020, diajak Mas Yudi dan Kang Irfan—dua instruktur selam PADI—yang lebih dulu jatuh cinta pada tempat ini. Sejak itu, entah sudah berapa kali saya kembali. Dan, setiap kali ada yang meminta rekomendasi tempat diving, saya selalu menjawab tanpa ragu: Karavea.
***
Hari itu, kami menyelam di beberapa titik. Di titik Atol, kami bertemu hiu sirip hitam yang santai lewat. Di Batusuya, ada gerombolan ikan kuwe—biasa disebut juga ikan bobara—yang bergerak seperti satu tubuh raksasa.
Titik penyelaman terakhir kami bernama Jangkar Tua. Nama itu berasal dari jangkar raksasa peninggalan kapal lama yang kini dilapisi karang dan spons—fosil sejarah yang pelan-pelan diambil alih laut. Kedalamannya dangkal, hanya sekitar 3-15 meter, tapi justru di situlah dugong sering mencari makan.
Saya sudah beberapa kali mencoba mencari dugong. Pernah snorkeling berjam-jam, nihil. Pernah pakai drone dari udara, nihil. Lama-lama, saya belajar menurunkan harapan. Dugong bukan tontonan, ia datang hanya kalau mau. Namun, Mars beda. Sejak pakai wetsuit, dia sudah komat-kamit berdoa, “Dugong, please… sekali aja…” Harapan dan semangatnya seperti baterai baru.
Kami turun perlahan, membentuk formasi menyisir. Dan, yang tersisa hanya suara napas, gelembung, dan lamun yang bergoyang lembut. Sepuluh menit. Lima belas menit. Tak ada apa-apa. Saya mulai berdamai. “Ya sudah, nikmati saja selamnya,” batin saya dalam hati.
Tak lama kemudian, sesuatu bergerak di kejauhan. Bukan ikan, bukan penyu. Siluetnya besar dan bulat, lalu bergerak perlahan. Seekor dugong. Tak hanya itu, di sampingnya ada seekor yang lebih kecil lagi—anaknya.
Dada saya mendadak sesak oleh rasa yang sulit dijelaskan. Antara bahagia, kaget, dan takut merusak momen. Kami semua otomatis menjaga jarak, tak ada yang berani mendekat.
Mereka merumput pelan, mulutnya menyapu lamun, seperti sapi laut yang damai. Gerakannya lambat, anggun tanpa usaha. Ia bukan tipe hewan yang pamer kecepatan. Ia hanya ada. Tenang. Utuh. Lalu, induknya berputar, membawa anaknya menjauh, menghilang ke biru.

***
Di atas perahu, kami melepas tabung skuba dan alat selam sambil senyum-senyum sendiri, seperti habis menang lotre.
Wawan lantas menepuk Mars. “Harusnya kau berterima kasih sama Sammy.”
“Kenapa?” tanya Mars.
“Kalau dia tidak injak tai sapi, mana mungkin kita seberuntung ini,” pungkas Wawan.
Tawa pun pecah, lagi dan lagi, bahkan semakin keras.
Perjalanan memang sesederhana itu. Donggala dengan kota lamanya. Karavea dengan rumah pantainya. Teman selam dengan candaan recehnya. Dan, sesekali, kalau beruntung—atau jika ada yang menginjak tai sapi—kita diizinkan melihat secercah keajaibannya.