Interval
  • Telaah
  • Tetirah
  • Tentang
Interval
  • Telaah
  • Tetirah
  • Tentang
No Result
View All Result
Plugin Install : Cart Icon need WooCommerce plugin to be installed.
Interval
No Result
View All Result

Gerak-gerik Wisata Olahraga

Sarani Pitor Pakan by Sarani Pitor Pakan
September 10, 2026
in Telaah
Home Telaah

“Tapi konsekuensi manis itu bukan satu-satunya cerita yang menemani laju gerak perkembangan wisata olahraga secara global. Yang kerap luput dibahas adalah cerita-cerita yang tragis: penggusuran tanah warga demi membangun Sirkuit Mandalika; kerugian ekonomi Brazil—dan konon Amerika Serikat—setelah menghelat Piala Dunia (2014 dan 2026).”


Pagi itu, pagi hari Minggu di Dunedin, lewat televisi saya menikmati final Piala Dunia Rugby 2023, yang dihelat di Prancis. All Blacks vs Springboks. Pertandingan berjalan seru dan dramatis hingga usai, meski pada akhirnya New Zealand harus mengakui keunggulan dan kecerdikan Afrika Selatan. Pertandingan selesai persis sebelum jam 10; kami lalu berangkat ke gereja. Di gereja, orang-orang berwajah muram duduk lesu di kursi-kursi. Ibadah dimulai agak terlambat. Lagu-lagu gereja terdengar hambar. Ketika pendeta berdoa syafaat, dia memulai dengan mengatakan: “God bless this nation which just lost a world cup final…”.

Di Aotearoa New Zealand, rugby adalah semacam agama. Ia diikuti dan dipraktikkan dengan relijius. Pertemuan saya dengan rugby di Dunedin dimulai di hari pertama. Itu hari musim dingin yang cerah, awal Juli 2022, ketika kampus agak lengang karena mahasiswa sedang liburan. Saya naik ke lantai 9 Otago Business School, tempat di mana Department of Tourism—tempat saya studi—berkantor. Di lantai 9 itu ada dinding kaca yang mengarah ke luar, ke arah Otago Peninsula. Bangunan pertama yang mencuri perhatian—dan membuat saya tersenyum—adalah sebuah stadion, yang dari ukurannya saja jelas kontras dengan bangunan-bangunan lain di sekitarnya. “Forsyth Barr namanya,” kata Alison, admin departemen kami. “Hari Sabtu besok All Blacks main di sana,” tambahnya.

Ketika Sabtu tiba, meski hujan deras mengguyur sejak pagi, orang-orang dengan baju All Blacks mengisi jalan-jalan kota; utamanya di area-area dekat stadion—yang juga area kampus University of Otago. Motel-motel memasang plang ‘no vacancy’ sebagai tanda bahwa ‘kamar sudah penuh’. Orang-orang dari kota-kota lain memenuhi Dunedin demi All Blacks. Bar-bar pun sesak oleh gegap-gempita rugby. Hari itu saya tidak masuk ke Forsyth Barr dan menikmati All Blacks secara langsung. Sebelum malam, saya pulang ke rumah dengan basah kuyup. Sambil minum bir, saya lalu duduk di ruang tengah rumah Don—induk semang saya—dan menonton All Blacks lewat layar komputer. Sedang Don—pembuat banjo—sibuk di bengkelnya sambil mendengar siaran pandang mata All Blacks via radio—caranya menikmati All Blacks, dan rugby secara umum, dari tahun ke tahun.

Tahun-tahun selama saya tinggal di Dunedin, All Blacks selalu menyambangi kota kecil kami. Setidaknya satu kali setiap tahunnya. Dan ketika itu terjadi, pemandangan yang sama yang saya dapati di akhir pekan pertama saya di Dunedin terulang: orang-orang dengan baju All Blacks di jalan-jalan kota, tanda ‘no vacancy’ di semua motel, Forsyth Barr yang tampak lebih sibuk dan terang benderang ketika laga berlangsung.

Cara-cara mewisatakan olahraga

Apa yang terjadi ketika All Blacks menyambangi Dunedin bisa dikategorikan sebagai salah satu bentuk wisata olahraga (sport tourism). Yaitu, ceruk wisata minat khusus yang menautkan jalan-jalan dengan olahraga. Dalam konteks Dunedin dan All Blacks, roda pariwisata berputar ketika pertandingan olahraga berlangsung. Tapi, wisata olahraga bukan hanya tentang stadion dan menonton laga olahraga secara langsung.

Secara garis besar, ada tiga (sub)tipe wisata olahraga. Pertama, wisata olahraga ‘aktif’ di mana wisatawan berpartisipasi secara fisik dalam olahraga tertentu. Orang yang berpergian ke Batukaras untuk berselancar atau terbang ke Boston untuk ikut Boston Marathon adalah contohnya. Dalam konteks itu, olahraga menjadi atraksi atau daya pikat utama bagi seseorang untuk mengunjungi suatu destinasi.

Kedua, wisata olahraga ‘pasif’ atau wisata olahraga ‘event’. Kasus All Blacks di Dunedin adalah contohnya, demikian pula arus wisatawan yang pergi berbondong-bondong ke kota penyelenggara Piala Dunia, Olimpiade, F1, atau MotoGP untuk menonton event-event tersebut. Tipe kedua ini disebut pasif karena wisatawan tidak berpartisipasi secara aktif/fisik dalam cabang olahraga tertentu, tapi hanya berperan sebagai penonton.

Ketiga, wisata olahraga ‘nostalgia’ atau ‘heritage’. Berbeda dengan dua tipe sebelumnya, tipe ini bukan soal ikut berolahraga atau menonton event olahraga, melainkan soal aktivitas turisme lain yang terkait dengan olahraga sebagai heritage. Misalnya, mengunjungi stadion-stadion sepak bola, mendatangi patung, memorial, atau kota kelahiran atlet terkenal, dan lain sebagainya. Tipe ketiga ini bicara tentang olahraga di luar ‘olahraga’ itu sendiri, dan menunjukkan bahwa olahraga tak melulu soal pertandingan dan kegiatan fisik. Olahraga adalah bagian dari warisan kebudayaan manusia yang lebih utuh.

Selain itu, penting juga untuk memilah wisata olahraga dari aktivitas turisme di mana olahraga menjadi salah satu bentuk kegiatan wisatawan. Sport tourism, menurut banyak pakar, terjadi ketika olahraga adalah motivasi utama seseorang untuk berpergian. Dalam hal itu, destinasi hanyalah atraksi sekunder. Hal itu berbeda dengan ‘olahraga wisata’ (tourism sport), di mana motivasi utama wisatawan adalah pariwisata secara general. Olahraga cuma aktivitas sekunder dan insidental yang dilakukan ketika sedang liburan. Contohnya adalah orang yang sedang berlibur di Bali, lalu tertarik untuk belajar selancar di Kuta. Atau, turis yang di sela-sela liburannya menyempatkan diri untuk jogging dan bersepeda.

Pembedaan tersebut ditujukan untuk secara konseptual menajamkan kekhususan wisata olahraga, dan secara praktis menunjukkan bahwa ada segmen pasar wisatawan yang spesifik, yaitu mereka yang menggemari olahraga tertentu, baik sebagai partisipan, penonton, maupun pengunjung atraksi-atraksi yang terkait olahraga.

Konsekuensi mewisatakan olahraga

Saya teringat artikel saya tentang wisata selancar di Mentawai, yang terbit di Journal of Policy Research in Tourism, Leisure, and Events. Di situ, saya menulis tentang retribusi wisata selancar—istilah vernakularnya ‘pajak surfing’, yaitu retribusi yang ditarik dari wisatawan selancar yang berkunjung ke Mentawai. Data yang saya dapat menunjukkan kontribusi signifikan retribusi tersebut untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Mentawai, hampir mencapai 20 persen pada 2019 sebelum badai besar pandemi melanda.

Hal yang kira-kira serupa terjadi pada Dunedin dan rugby. Ketika All Blacks dijadwalkan bertanding di Stadion Forsyth Barr, uang-uang berputar dengan sendirinya. Penggemar All Blacks dari seantero negeri menempuh perjalanan menuju Dunedin, kamar-kamar motel terisi penuh, dan apa yang kerap disebut sebagai trickle-down effect kemudian menetes ke ekonomi lokal. Koran lokal Otago Daily Times, beberapa hari setelah laga, biasanya akan mengestimasi berapa pendapatan yang didapat Dunedin dari kunjungan All Blacks.

Banyak bentuk wisata olahraga lain juga menempuh jalur yang menguntungkan itu, misalnya NYC Marathon, wisata sepak bola Liga Inggris, wisata selancar Kosta Rika, ski di Pegunungan Alpen Eropa, wisata golf Skotlandia, atau Grand Prix Formula 1. Semua menghitung-hitung keuntungan yang didapat; dan secara sekilas, orang akan paham mengapa wisata olahraga menjadi ceruk pariwisata yang berkembang pesat dalam 1-2 dekade terakhir. Ada keuntungan raksasa di baliknya, dan hal itu mungkin terjadi karena wisatawan minat khusus biasanya rela merogoh kocek lebih dalam dibanding wisatawan massal.

Tapi konsekuensi manis itu bukan satu-satunya cerita yang menemani laju gerak perkembangan wisata olahraga secara global. Yang kerap luput dibahas adalah cerita-cerita yang tragis: penggusuran tanah warga demi membangun Sirkuit Mandalika; kerugian ekonomi Brazil—dan konon Amerika Serikat—setelah menghelat Piala Dunia (2014 dan 2026); stadion-stadion ‘gajah putih’ (white elephants) yang dibangun untuk mega-event olahraga namun terbengkalai setelahnya; atau meningkatnya praktik lokalisme yang brutal di titik-titik selancar terkenal karena ombak dipenuhi wisatawan.

Contoh-contoh itu adalah ekses yang tidak diharapkan dari perkembangan wisata olahraga, dan membuktikan bahwa berwisata sambil berolahraga mungkin sehat untuk tubuh pelakunya tapi belum tentu untuk tubuh-tubuh lain di destinasi wisata olahraga. Event olahraga mungkin mendulang cuan untuk kelompok-kelompok tertentu, tapi berujung getir untuk kelompok-kelompok yang marjinal; mereka yang menjadi korban dari ambisi gagah—dan mungkin sporty—untuk menggerakan pariwisata lewat olahraga.

Sarani Pitor Pakan

Sarani Pitor Pakan

Please login to join discussion

© 2022 Interval.

No Result
View All Result
  • Tetirah
  • Telaah
  • Tentang

© 2023 Interval.