“Keberadaan ratusan burung perling di atas pohon ternyata tidak hanya menghidupkan langit Pantai Kastela. Di bawahnya, kehidupan lain ikut bergantung.”
Perjalanan menuju Pantai Kastela dari pusat kota Ternate tidaklah panjang. Jalan berkelok mengikuti kaki Gunung Gamalama, sesekali membuka pemandangan laut yang tenang. Kemudi berada di tangan Anto, sopir asli Ternate yang hafal setiap tikungan pulau ini. Mobil melaju santai, tanpa tergesa. Jam di gawai menunjukkan pukul setengah lima sore. Jika ini kota lain di Indonesia, langit mungkin sudah menguning dan bayangan pepohonan memanjang. Namun di Ternate, matahari seolah masih enggan bergeser. Cahayanya masih seterang pukul dua siang, menyinari lereng Gamalama dengan benderang.
Beberapa menit sebelum memasuki kawasan Pantai Kastela, Anto memperlambat laju mobil. Di sisi kanan jalan, berdiri sisa-sisa tembok batu yang sudah dipagari.
“Itu Benteng Kastela,” katanya singkat.
Mobil tidak berhenti, tetapi cukup lambat untuk membiarkan mata saya menangkap dinding-dinding yang telah kehilangan bentuk utuhnya. Tidak lagi tampak sebagai benteng yang kokoh, melainkan serpihan ingatan yang bertahan melawan waktu. Sulit membayangkan bahwa batu-batu yang kini sunyi itu pernah menjadi pusat kekuasaan Portugis di Maluku, tempat para pedagang rempah, serdadu, dan utusan kerajaan lalu-lalang lebih dari empat abad silam.
Di tempat inilah sejarah Ternate berubah arah. Benteng yang dahulu dikenal sebagai Benteng Gamlamo menjadi saksi pertemuan dua dunia: bangsa Eropa yang datang membawa kapal dan meriam, serta Kesultanan Ternate yang telah lebih dahulu menguasai jalur perdagangan rempah. Di balik tembok-tembok itu pula, Sultan Khairun datang memenuhi undangan damai, tetapi justru dibunuh secara licik pada tahun 1570. Peristiwa itu membakar kemarahan rakyat Ternate dan melahirkan perlawanan besar di bawah Sultan Baabullah, yang akhirnya berhasil mengusir Portugis dari pulau ini lima tahun kemudian.
Kami memasuki kawasan Pantai Kastela setelah membayar karcis masuk. Tidak ada antrean panjang. Hanya ada satu orang petugas di gerbang.
Namun, ada sesuatu yang langsung terasa berbeda begitu roda mobil berhenti.
Biasanya, pantai menyambut pengunjung dengan suara debur ombak. Di Kastela, suara ombak kalah oleh lengkingan ratusan burung dari atas pepohonan.
Tidak hanya saya yang refleks mendongakkan kepala. Novi, Bimbo dan Chafiz juga melihat ke arah sumber suara. Dan saya perhatikan hampir setiap orang yang baru tiba melakukan hal yang sama. Mata mereka mencari sumber keramaian di atas sebuah pohon capilong tua yang berdiri kokoh di tepi pantai.
Di antara rimbunnya daun, tampak puluhan, mungkin ratusan, sarang yang menempel rapat pada cabang-cabang. Burung-burung itu datang dan pergi tanpa henti. Sebagian membawa ranting-ranting kecil, sebagian lagi kembali dengan makanan di paruhnya. Seluruh pohon seperti sebuah kota yang tidak pernah benar-benar sepi.
“Kami di sini biasa menyebutnya burung cailibi,” ujar Pak Abdullah, penjaga pintu masuk Pantai Kastela.
Nama itu terdengar asing di telinga saya. Cailibi. Sebuah nama lokal yang tidak pernah saya dengar sebelumnya. Rasa penasaran pun muncul. Saya mengirimkan video yang sempat saya rekam kepada Iskandar, seorang pemerhati burung di Ternate.
Tak lama kemudian, balasan datang.
“Itu perling ungu (Aplonis mysolensis),” tulisnya.
Penjelasan Iskandar membuka cara pandang baru terhadap pohon tua yang berdiri di Pantai Kastela. Burung perling ungu dikenal sebagai burung yang hidup berkoloni. Berbeda dengan banyak jenis burung lain yang memberi jarak antarsarang, perling memilih hidup berdampingan. Puluhan bahkan ratusan pasangan menempati satu pohon yang sama, menjadikannya sebuah permukiman bersama tempat mereka berkembang biak, membesarkan anak-anak, sekaligus berlindung dari predator.
Matahari masih enggan beranjak menuju ufuk. Langit biru terang, sementara cahaya sore terasa seperti pertengahan siang. Kami tidak terburu-buru menunggu senja. Perhatian kami sepenuhnya direbut oleh penghuni pohon capilong.
Novi dan Bimbo sibuk membidik dari balik lensa kamera, berusaha merekam setiap gerakan burung yang datang-pergi. Chafiz menerbangkan drone, membiarkannya melayang perlahan di atas tajuk pohon. Dari layar kecil kamera mereka saya coba melihat; kehidupan yang semula hanya terdengar sebagai riuh kini terlihat lebih jelas.
Dari dekat, burung-burung itu memancarkan pesona yang sebelumnya luput dari mata. Tubuh mereka tampak hitam ketika dilihat dari bawah. Namun, setiap kali cahaya matahari mengenai bulunya pada sudut tertentu, warna lain seketika muncul. Kilau ungu kehijauan memantul lembut di sekujur tubuh, berubah-ubah mengikuti arah cahaya, seolah bulunya dilapisi logam yang dipoles hingga berkilau. Mungkin karena itulah burung ini dikenal sebagai perling ungu.
Ukurannya tidak besar, hanya sekitar dua puluh sentimeter—sedikit lebih kecil daripada burung jalak yang sering kita jumpai di permukiman. Paruhnya ramping hitam, matanya merah tua dengan tatapan yang selalu tampak waspada. Kakinya mencengkeram ranting dengan kuat, membuatnya lincah melompat dari satu cabang ke cabang lain tanpa pernah terlihat kehilangan keseimbangan.
Dari layar monitor Chafiz yang memegang kendali drone, pola kehidupan mereka menjadi semakin menarik. Tidak ada burung yang tampak mendominasi. Mereka datang bergelombang, mendarat hampir bersamaan.

Keberadaan ratusan burung perling di atas pohon ternyata tidak hanya menghidupkan langit Pantai Kastela. Di bawahnya, kehidupan lain ikut bergantung.
Sesekali terdengar suara ayam kampung berkokok di bawah pohon. Beberapa ekor merpati dan burung-burung kecil tampak sibuk mematuk tanah. Awalnya saya mengira mereka hanya mencari serangga. Ternyata bukan.
“Mereka makan sisa-sisa biji yang dibawa burung cailibi ke sarangnya,” jelas Pak Abdullah. “Banyak yang jatuh ke bawah.”
Burung perling memakan buah dan biji-bijian. Tidak semua makanan yang mereka bawa berhasil sampai ke paruh anak-anaknya. Sebagian tercecer ketika mereka mendarat atau menyuapi anaknya di sarang. Biji-biji yang jatuh itu kemudian menjadi sumber makanan bagi ayam kampung, merpati, bahkan burung-burung lain yang menunggu di bawah pohon. Tanpa disadari, koloni perling telah menciptakan sebuah rantai kehidupan kecil—relasi multispesies—di tengah Pantai Kastela.
Setiap pagi, menurut Pak Abdullah, pemandangan itu selalu berulang.
“Kalau pagi ramai sekali. Burung-burung itu terbang ke arah Gunung Gamalama. Jaraknya paling tidak sampai lima kilometer dari sini. Mereka mencari makan sekitar setengah jam sampai satu jam, lalu pulang lagi sambil membawa biji-bijian.”
Rutinitas itu berlangsung hampir setiap hari. Saat matahari mulai meninggi, langit Kastela dipenuhi kawanan perling yang datang bergelombang menuju pohon tempat mereka bersarang.
Yang lebih mengejutkan adalah kisah tentang kapan koloni ini mulai terbentuk.
“Burung cailibi ini baru ada sekitar setahun belakangan,” kata Pak Abdullah. “Awalnya, sekitar tahun 2025, cuma ada beberapa sarang di pohon itu. Lama-lama bertambah terus. Sekarang sudah ratusan. Bahkan pernah ada satu dahan yang patah karena tidak kuat menahan berat sarang dan burung-burungnya.”
Saya menatap kembali pohon capilong itu. Sulit membayangkan bahwa hanya dalam waktu satu tahun, sebuah pohon biasa telah berubah menjadi rumah bagi ratusan burung. Mereka cukup menemukan satu tempat yang aman, lalu kehidupan bergerak, bertumbuh dengan sendirinya. Sebuah permukiman dimulai.